Pertama-tama, puasa melatih dalam mengelola kehendak. Dengan berpuasa, kita melatih kehendak agar sesuai dengan kehendak Allah. Dalam perspektif sufi, hal itu menunjuk pada ketiadaan kehendak. Yang ada hanyalah kehendak Allah semata. Kita hanyalah pelaksana kehendak-kehendak-Nya. Konkretnya, dalam keadaan lapar dan haus pada siang hari di bulan Ramadhan. Bukankah yang paling enak kita melakukan makan dan minum? Namun, hal itu tidak dilakukan. Sebab, kita menyadari, makan dan minum pada siang hari Ramadhan menyalahi kehendak Allah. Dia mengharuskan kita agar menahan diri dari makan dan minum. Puasa juga melatih kita dalam persoalan ketaatan, kesabaran, dan kesungguhan kepada Allah. Bukankah karena ketaatan kita tidak berlaku curang dalam melaksanakan puasa? Kita, misalnya, tak makan atau minum secara sembunyi-sembunyi? Dengan kesabaran dan kesungguhan, kita bersedia melalui sebulan penuh Ramadhan dengan lapar, haus, dan menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan p...